Home Teknologi Kilau Cahaya Malam 27 Ramadhan: Tradisi Lampu Colok Menjemput Lailatulqadar

Kilau Cahaya Malam 27 Ramadhan: Tradisi Lampu Colok Menjemput Lailatulqadar

Tradisi lampu colok di 10 malam terakhir ramadhan.

63
0
SHARE
 Kilau Cahaya Malam 27 Ramadhan: Tradisi Lampu Colok Menjemput Lailatulqadar

Keterangan Gambar : Festival Lampu Colok Malam 27 Ramadhan Di Kota Dumai

Dumai (kotadumai.my.id) – Gemerlap cahaya kecil dari ribuan sumbu minyak menyulut kerinduan mendalam akan masa lalu, dimana kampung masih minim penerangan. Ramadhan 1447H di Kota Dumai di bawah langit malam yang kian pekat menuju Idulfitri, daratan Kota Dumai kembali berpijar. Tradisi "Lampu Colok" menjadi hiasan visual, simbol peradaban, pemandu ibadah, dan doa yang dipanjatkan lewat cahaya. Panitia lampu colok dikota dumai menyiapkan hadiah untuk pemenang lampu colok hias, 6 kelompok pemenang terpilih akan mendapat hadiah jutaan rupiah dari Pemkot Dumai (17/3).

Warisan Penerang Jalan Ibadah

Dahulu, jauh sebelum aliran listrik menembus pelosok kampung, malam-malam di tanah Melayu adalah gulita yang sunyi. Namun, saat memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana berubah drastis. Para tetua memasang pelita (lampu colok) di sepanjang jalan desa yang masih berupa tanah dan semak belukar.

"Lampu ini dulu fungsinya vital, sebagai alat penerang bagi warga yang hendak ke masjid untuk beribadah di malam-malam ganjil. Tanpa aspal, tanpa lampu jalan, pelita inilah yang memudahkan langkah kaki menuju rumah Allah," kenang salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Tak hanya soal fungsi fisik, pemasangan lampu ini juga diiringi doa-doa tulus. Setiap nyala sumbu melambangkan harapan agar keluarga yang didatangi memperoleh limpahan rahmat, rezeki, kesehatan, hingga keselamatan di malam Lailatulqadar—malam di mana pintu langit dipercaya terbuka lebar bagi doa-doa manusia.

Festival 1447 H: Antara Tradisi dan Kompetisi

Tahun ini, menyambut malam ke-27 Ramadan 1447 H, kemeriahan tersebut dilembagakan melalui Festival Lampu Colok. Pemerintah dan tokoh adat bersinergi mengemas tradisi ini menjadi ajang pelestarian budaya yang kompetitif namun tetap religius.

Untuk memotivasi semangat gotong-royong pemuda desa, panitia telah menyiapkan total hadiah puluhan juta rupiah.

Berikut adalah rincian apresiasi bagi para penjaga cahaya tahun ini, untuk memotivasi partisipasi, panitia menyiapkan total hadiah puluhan juta rupiah, dengan rincian:

- Juara I: Rp10.000.000

- Juara II: Rp8.000.000

- Juara III: Rp7.000.000

- Juara Harapan I: Rp6.000.000

- Juara Harapan II: Rp5.000.000

- Juara Harapan III: Rp4.000.000

Seiring perkembangan zaman, bentuk lampu colok mengalami transformasi kreatif. Jika dulu hanya berupa pelita bambu sederhana di depan teras, kini masyarakat membangun konstruksi kayu menjulang ke langit. Kayu-kayu tersebut didesain membentuk motif geometris Islami, siluet masjid, hingga tulisan kaligrafi yang menakjubkan saat ribuan pelita dinyalakan serentak.

Meski kini lampu listrik mulai banyak digunakan sebagai alternatif, nilai filosofisnya tetap sama. Lampu pelita "Colok" ini menjadi magnet bagi masyarakat, terutama anak-anak, untuk merasakan nuansa Islami sejak dini. Pengalaman visual ini diharapkan terus membekas hingga mereka dewasa, menjadi pengingat bahwa Ramadhan segera berakhir dan intensitas ibadah harus ditingkatkan.

"Lampu colok adalah pengingat, tidak hanya hiasan kayu dan api. Ia adalah warisan detak jantung spiritualitas dari nenek moyang kita. Dahulu, cahaya inilah yang menuntun langkah kaki menuju masjid di tengah gelapnya malam tanpa listrik. Kini, cahaya itu tetap menyala sebagai simbol doa dan harapan di Malam Tujuh Likur. Mari lestarikan cahaya ini, agar generasi setelah kita tetap tahu jalan pulang menuju akar budayanya. Menanti keberkahan malam yang lebih baik dari seribu bulan," ujar seorang anggota panitia festival lampu colok pelita.

Magnet Budaya Pesisir

Tradisi likuran pelita ini merupakan identitas kuat masyarakat pesisir Sumatera. Dimulai dengan ritual mandi balimau saat menyambut Ramadhan, dan ditutup dengan cahaya colok di penghujungnya. Bagi keluarga yang mampu, mereka menghiasi pekarangan dengan variasi motif bintang dan bulan yang terbuat dari bambu serta benang, menciptakan harmoni estetika di setiap sudut desa.

Kini, di bawah bayang-bayang konstruksi megah lampu colok yang menyala di malam tujuh likur, masyarakat Kota Dumai tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga menjaga api spiritualitas agar tidak padam ditelan zaman.

Bagi masyarakat tempatan lokal, Lampu Colok pelita adalah warisan detak jantung spiritualitas dari nenek moyang kita. Dahulu, cahaya inilah yang menuntun langkah kaki menuju masjid di tengah gelapnya malam tanpa listrik. Kini, cahaya itu tetap menyala sebagai simbol doa dan harapan di Malam Tujuh Likur. Mari lestarikan cahaya ini, agar generasi setelah kita tetap tahu jalan pulang menuju akar budayanya. Bukan cuma soal gengsi, namun juga ada total hadiah puluhan juta rupiah menanti para juara dari Pemerintah Kota Dumai sebagai apresiasi dukungan lestarikan tradisi budaya.

(Navolino)